Risiko Kanker Usus pada Pelari Jarak Jauh: Temuan Menarik dalam Studi Terbaru
Sebuah studi yang diungkapkan pada American Society of Clinical Oncology (ASCO) 2025 menunjukkan bahwa pelari marathon berisiko lebih tinggi mengalami polip usus berpotensi kanker. Penelitian ini melibatkan analisis kolonoskopi pada 100 pelari antara usia 35 hingga 50 tahun.
Baca juga: Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Hasilnya mengejutkan, hampir 50% partisipan ditemukan memiliki polip, dan sekitar 15% di antaranya teridentifikasi sebagai advanced adenomas, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum pada usia yang sama.
Tingkat prevalensi advanced adenomas di kalangan pelari marathon mencapai 15%, jauh lebih tinggi dari populasi usia 40-49 tahun yang hanya 1,2% sampai 6%. Dr. Timothy L. Cannon dari Inova Schar Cancer Institute mengatakan, 'Setelah bertemu tiga atlet ekstrem dengan kanker usus besar stadium IV sebelum usia 40 tahun, saya mulai curiga ada kaitannya.'
Menariknya, sebanyak 30% partisipan melaporkan mengalami perdarahan rektal setelah berlari, dengan insiden lebih tinggi pada yang memiliki advanced adenomas, yakni 53% dibandingkan 22% yang tidak memiliki lesi berbahaya.
Temuan ini menjadi alarm bagi kalangan atlet agar lebih waspada terhadap kesehatan usus mereka. Studi ini tidak hanya penting bagi pelari, tetapi juga memberikan wawasan yang lebih luas mengenai kesehatan pencernaan.
Baca juga: Dominik Szoboszlai Jadi Pahlawan Liverpool Lewat Tendangan Bebas Gemilang
Peneliti mengidentifikasi pemindahan aliran darah ke otot kaki saat berlari sebagai salah satu faktor risiko. Hal ini dapat menyebabkan usus mengalami kekurangan suplai darah atau iskemia, yang pada gilirannya memicu peradangan dan kerusakan sel.
Dr. Cannon juga menyoroti pola makan pelari yang menjadi sorotan. 'Banyak pelari mengonsumsi bar dan gel ultra-proses, minum dari botol plastik jauh lebih sering, dan sepertiga peserta bahkan vegetarian atau vegan,' ujarnya.
Pola makan ini berpotensi meningkatkan risiko perkembangan masalah gastrointestinal yang lebih serius. Perubahan gaya hidup yang lebih sehat mungkin diperlukan untuk melindungi kesehatan pencernaan.
Profesor gastroenterologi dari Indiana University, Dr. Thomas F. Imperiale, menganggap bahwa meski hasil ini menarik, terdapat keterbatasan dalam metodologi studi. 'Patokan perbandingan prevalensi adenoma lanjut sebesar 1,2% didasarkan pada data kolonoskopi skrining dari 25 tahun yang lalu,' ujarnya.
Kritik juga datang dari Dr. Hamed Khalili dari Harvard Medical School yang menekankan pentingnya studi berskala lebih besar untuk memperoleh hasil yang lebih meyakinkan. 'Ukuran sampelnya kecil, jadi tidak jelas apakah perbedaan yang diamati hanyalah masalah pengambilan sampel,' tegasnya.
Kesimpulan yang diraih dari penelitian ini dapat menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut, namun semua pihak diharapkan tetap skeptis hingga ada data yang lebih solid untuk mendukung temuan ini.
Baca juga: Rumor Transfer Thom Haye ke Persib Bandung Semakin Menguat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: