Mengungkap Sejarah dan Makna Sistem Skor dalam Permainan Tenis
Dalam dunia tenis, sistem penilaian yang unik sering menimbulkan pertanyaan terkait pilihan istilah yang digunakan, seperti 'love' dan 'deuce'. Hal ini mencerminkan tradisi dan kultur yang telah ada sejak abad ke-12.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens
Sejarah panjang dan makna dari istilah-istilah dalam sistem skor tenis memperlihatkan bagaimana elemen sosial dan bahasa berpengaruh dalam perkembangan olahraga ini.
Sistem skor tenis berasal dari Prancis pada abad ke-12, bersamaan dengan penciptaan permainan ini. Perkembangan istilah seperti 'love' untuk nol dan 'deuce' menunjukkan tradisi unik yang membedakannya dari olahraga lain.
Penggunaan angka 15, 30, dan 40 juga diadaptasi dari cara permainan lama yang kemudian mengalami transformasi menjadi sistem penilaian. Hal ini mencerminkan kebiasaan dan kultur masyarakat pada waktu itu yang turut membentuk karakter permainan.
Banyak elemen dalam sistem skor ini diambil dari latar belakang sejarah tenis, yang menjadikannya tidak hanya sekadar angka, tetapi juga bagian dari identitas olahraga.
Baca juga: Dominik Szoboszlai Jadi Pahlawan Liverpool Lewat Tendangan Bebas Gemilang
'Love', yang sering diartikan sebagai cinta dalam bahasa Inggris, sebenarnya memiliki asal-usul dari kata Prancis 'l'oeuf', yang berarti telur, melambangkan angka nol. Ini menunjukkan bagaimana bahasa dan budaya memberikan kontribusi dalam terminologi olahraga.
Istilah 'deuce' pula mengacu pada situasi ketika kedua pemain memiliki skor yang sama, yaitu 40. Kata ini diambil dari bahasa Prancis 'deux', yang berarti dua, menandakan perlunya dua poin tambahan untuk memenangi permainan.
Pemilihan istilah ini menambah dimensi kedalaman sejarah dan budaya yang dibawa oleh olahraga, melibatkan pengaruh dari masyarakat yang menciptakan dan mengembangkan tenis.
Sistem skor yang terlihat aneh bagi sebagian orang tetap digunakan karena aspek tradisi dan kekhasan yang menyertainya. Perubahan dalam sistem skor akan mengacaukan permainan dan menghilangkan ciri khas tenis itu sendiri.
Banyak penggemar dan pemain merasa nyaman dengan istilah yang sudah ada dan berakar dalam tradisi panjang. Hal ini menciptakan ikatan emosional dengan cara permainan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Meskipun zaman telah berubah, kebiasaan lama ini tetap dipertahankan, menunjukkan bahwa olahraga juga merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu dijaga.
Baca juga: Janice Tjen Raih Kemenangan Bersejarah di US Open 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: