Piala Dunia 2026 kini berada di ambang krisis serius seiring dengan meningkatnya seruan boikot dari sejumlah negara, terutama Jerman. Jika tuntutan tersebut terpenuhi, ada kemungkinan besar FIFA akan menghadapi kebangkrutan akibat pembatalan turnamen.
Baca juga: Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Ketegangan politik yang melibatkan Amerika Serikat menjadi latar belakang menguatnya seruan tersebut, dengan negara-negara berkualitas sepak bola seperti Inggris dan Spanyol turut mendukung ide boikot ini.
Desakan untuk Mengubah Tuan Rumah
Piala Dunia 2026 direncanakan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli dengan tuan rumah yang mencakup Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, belakangan muncul desakan yang kuat untuk mencabut status tuan rumah Amerika Serikat, terutama dari Jerman.
Ketegangan diplomatik antara Jerman dan Washington yang meningkat, dipicu oleh pernyataan kontroversial dari Presiden AS, semakin memperburuk situasi. Ancaman boikot disuarakan tidak hanya oleh Jerman, tetapi juga oleh Inggris, Spanyol, dan Skotlandia, yang khawatir dengan kondisi politik saat ini.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer Mengejutkan di Bursa Musim Panas 2025
Dampak Ekonomi yang Mengkhawatirkan
Jika Piala Dunia dibatalkan, Rob Wilson, seorang pakar keuangan sepak bola, menyatakan bahwa FIFA dapat mengalami kerugian yang signifikan. 'Biaya bukanlah masalah besar. Yang menjadi masalah adalah kontrak, logistik, pengaturan keamanan, infrastruktur siaran, dan semua hal legal yang akan muncul,' ungkap Wilson.
Dia juga menjelaskan bahwa anggaran total untuk penyelenggaraan Piala Dunia diperkirakan mencapai 4 miliar dolar AS, di mana setiap kota penyelenggara dapat menghabiskan hingga 250 juta dolar AS.
Risiko Gugatan dan Kehilangan Pendapatan
Pembatalan turnamen tidak hanya berdampak pada keuangan FIFA, tetapi juga pada pendapatan dari sponsor, akomodasi, hingga sektor pariwisata. 'Ada penyiar, sponsor, stadion, infrastruktur yang sedang dibangun,' lanjut Wilson.
Selain itu, pemindahan status tuan rumah juga bisa menyebabkan gugatan ganti rugi yang mencapai angka tertinggi dalam sejarah football, terutama dengan banyak penggemar yang sudah melakukan pembayaran untuk perjalanan dan akomodasi mereka. 'Semua orang akan ingin mengajukan klaim atas kerugian jika Piala Dunia dipindahkan,' pungkasnya.
Baca juga: Pentingnya Sarapan Sehat bagi Petinju untuk Dukungan Performanya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: