Dampak Media Sosial Terhadap Citra Tubuh dan Kesehatan Mental di Indonesia
Media sosial kini menjadi ruang yang signifikan dalam membentuk citra tubuh, terutama di kalangan individu yang terlibat dalam dunia fitness. Pengguna sering merasa tertekan untuk memenuhi standar kecantikan yang kadang tidak realistis akibat perbandingan dengan orang lain.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer Mengejutkan di Bursa Musim Panas 2025
Tekanan ini berisiko menimbulkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi, terutama dengan meningkatnya penggunaan media sosial di Indonesia. Penelitian menunjukan fenomena ini semakin meluas dan menyentuh banyak lapisan masyarakat.
Media sosial menjadi ajang promosi bagi influencer fitness yang kerap membagikan konten tentang gaya hidup sehat dan ideal tubuh. Sayangnya, banyak konten yang berfokus pada sisi visual tanpa menawarkan konteks tentang usaha yang dilakukan.
Pengguna merasa harus memenuhi ekspektasi yang tercermin dalam gambar-gambar yang mereka jumpai di platform seperti Instagram dan TikTok. Hal ini menciptakan tekanan untuk menjelma ke dalam citra yang dianggap menarik dan sehat.
Studi mengindikasikan bahwa paparan terhadap gambaran-gambaran ideal tersebut berpotensi meningkatkan rasa ketidakpuasan terhadap tubuh. Dengan demikian, media sosial menjadi pedang bermata dua, di mana ia bisa memotivasi tetapi juga merusak kepercayaan diri.
Baca juga: Timnas Putri Indonesia U-16 Kalah dari Australia di Semifinal Piala AFF
Penelitian menemukan bahwa frekuensi penggunaan media sosial berkorelasi dengan meningkatnya gejala kecemasan dan depresi. Ketidakpuasan terhadap penampilan fisik dapat mendorong perilaku makan yang tidak sehat dan program fitness yang ekstrem.
Organisasi kesehatan dunia seperti WHO menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam penggunaan media sosial. Narasi yang tidak realistis di media sosial dapat memberikan pemahaman keliru, khususnya bagi generasi muda.
Beberapa individu bahkan merasa perlu mengambil langkah ekstrem demi mencapai kondisi fisik yang ditampilkan, yang akhirnya bisa berujung pada gangguan makan dan masalah kesehatan lainnya akibat tekanan untuk memenuhi ekspektasi yang tak mungkin tercapai.
Salah satu cara untuk mengurangi tekanan dari media sosial adalah dengan memilih konten yang positif dan mendukung, termasuk mengikuti akun yang mempromosikan keberagaman bentuk tubuh dan mendukung kesehatan mental.
Penting untuk meningkatkan pemahaman tentang realitas di balik foto-foto yang diunggah, karena banyak influencer menggunakan pengeditan yang menciptakan ilusi tentang tubuh yang sempurna.
Mengatur waktu penggunaan media sosial juga menjadi langkah kunci untuk meminimalkan dampak negatifnya. Dengan menghindari scrolling tanpa tujuan, individu dapat membuka ruang untuk aktivitas lain yang lebih produktif dan positif.
Baca juga: Persib Bandung Resmi Umumkan Kehadiran Dua Pemain Baru: Thom Haye dan Federico Barba
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: